4+ Anjuran Jangan Terlalu Lama Larut dalam Kesedihan

4+ Anjuran Jangan Terlalu Lama Larut dalam Kesedihan
photo: Naisha Hijrah

NaishaMate, jangan Terlalu Lama Larut dalam Kesedihan.

“Wahai manusia, Kami akan menguji kalian dengan kesempitan dan kenikmatan, untuk menguji iman kalian. Dan hanya kepada Kamilah kalian akan kembali.”

Read More

Itulah firman Allah dalam Al-Quran Surah Al-Anbiya ayat 35, yang telah menegaskan bahwa kehidupan kita di dunia sudah pasti tidak akan selamanya indah dan berlimpah kenikmatan. Melainkan ada suka dan duka yang akan kita alami silih berganti.

Hal ini menunjukkan bahwa dunia hanyalah tempat sementara, dan bukanlah segalanya. Karena masih ada akhirat nantinya. Sebagaimana yang telah kita yakini, masih ada kehidupan lain yang akan kita alami dan negeri lain yang akan kita datangi. Untuk itu janganlah terlalu mengejar dunia.

Jangan Terlalu Lama Larut dalam Kesedihan 1

4+ Anjuran Jangan Terlalu Lama Larut dalam Kesedihan
photo: Naisha Hijrah

Negeri akhirat itulah tempat kembali kita semua, tempat menetap selamanya, untuk menerima segala balasan atas semua kebaikan maupun keburukan yang kita amalkan di dunia.

“Jika kamu (pada Perang Uhud) mendapat luka, maka mereka pun (pada Perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran), dan agar Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan agar sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang zalim.” (QS. Ali Imran:140).

NaishaMate, Allah telah menciptakan berbagai bentujk emosi. Ada rasa suka, duka, senang, sedih dan lain sebagainya. Hal ini karena agar manusia menyadari berbagai nikmat yang Allah berikan kepada manusia.

Jangan Terlalu Lama Larut dalam Kesedihan

4+ Anjuran Jangan Terlalu Lama Larut dalam Kesedihan
photo: Naisha Hijrah

NaishaMate, sadarilah bahwa Allah pula yang mendatangkan kesedihan agar manusia tunduk bersimpuh kepada Allah SWT yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Sehingga manusia tidak lantas menjadi tamak dan menyombongkan diri.

Allah telah memberikan contoh kepada kita di dalam Al-Quran mengenai kondisi Nabi Ya’qub saat lama berpisah dengan putra tercintanya; Nabi Yusuf alaihis salam.

“Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan penderitaan dan kesedihanku.” (QS. Yusuf:86).

Sebagai seorang hamba Allah yang beriman, sudah sepantasnya kita selalu yakin bahwa pasti ada saja hikmah dalam setiap kejadian dan ketetapan yang Allah berikan.

Sebagaimna firman-Nya dalam Al-Quran yang artinya, “Dialah Allah yang menjadikan seorang tertawa dan menangis.” (QS. An-Najm:43).

Dari uraian singkat di atas, dapat kita pahami bahwa tidak ada salahnya ketika perasaan sedih datang, tidak pula buruk ketika seseorang merasakan suka cita. Semua perasaan itu adalah naluri yang manusiawi. Apalagi bila sebab-sebab kesedihan itu suatu hal yang terpuji. Seperti halnya kesedihan yang dialami seorang yang beriman ketika melakukan dosa. Nabi mengatakan bahwa itu adalah salah satu tanda bahwa terdapat keimanan dalam diri seseorang.

“Barangsiapa yang merasa bergembira karena amal kebaikannya dan sedih karena amal keburukannya, maka ia adalah seorang yang beriman.” (HR. Tirmidzi).

Jangan Terlalu Lama Larut dalam Kesedihan 3

4+ Anjuran Jangan Terlalu Lama Larut dalam Kesedihan
photo: Naisha Hijrah

Contoh lainnya adalah saat seseorang merasa sedih saat tertinggal salat berjemaah di masjid, kemudian menyia-nyiakan waktu, tertidur di sepertiga malam terakhir hingga luput dari salat tahajud, atau bangun kesiangan lalu melewatkan sholat subuh.

Namun yang tercela atau tidak disukai oleh Allah adalah ketika seseorang mengalami kesedihannya kemudian membuat hatinya lemah, semangatnya meredup, kehilangan arah dan lain sebagainya. Inilah bentuk kesedihan yang menghancurkan harapan, dan kesulitan berikhtiar untuk menjadikan diri lebih bahagia.

Contoh lainnya adalah kesedihan yang membuatnya kesulitan  mendapatkan ridha Allah dan kesulitan menjauhkan diri dari jalan Allah SWT.

Nah, dalam kondisi seperti inilah yang kemudian membuat setan bergegas memanfaatkan kesedihan manusia untuk menjerumuskan manusia ke dalam jurang kesesatan. Betapa banyak orang-orang yang terlalu larut dalam kesedihan kemudan menjadi sesat, dan itulah sebabnya Nabi SAW pun senantiasa berlindung dari rasa sedih berkepanjangan.

Jangan Terlalu Lama Larut dalam Kesedihan 4

4+ Anjuran Jangan Terlalu Lama Larut dalam Kesedihan
photo: Naisha Hijrah

Berikut ini adalah salah satu doa yang sering dipanjatkan Nabi adalah,
اللهم إني أعوذ بك من الهم والحزن ..
Allahumma innii a’uudzubika minal hammi wal hazani…

“Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari gundah gulana dan rasa sedih…” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sebagaimana yang telah dicontohkan Nabi, maka tidak selayaknya kita tidak perlu terlalu larut dan berlama-lama di dalam kesedihan. Terlebih bila kita sadar bahwa ternyata setan justru senang jika melihat seorang Mukmin bersedih. Tahukah NaishaMate bahwa setan memang sangat menginginkan kesedihan itu hadir dalam diri manusia beriman, seperti firman Allah dalam Al-Quran yang artinya, “Sesungguhnya pembicaraan bisik-bisik itu hanyalah dorongan dari setan. Supaya menjadikan hati orang-orang beriman sedih. Padahal pembicaraan rahasia untuk menggunjing tidak akan merugikan orang-orang beriman sedikit pun, kecuali dengan kehendak Allah. Hanya kepada Allah-lah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakkal.” (QS. Al-Mujadilah:10).

Ternyata jika kita mengamati lebih dekat, kata-kata sedih dalam Al-Quran tidaklah datang kecuali dalam konteks larangan atau kalimat negatif (peniadaan). Hal ini sebagaimana yang dijelaskan Ibnul Qayyim dalam bukunya Madaarijus Saalikiin.

Dalam konteks larangan, misalnya terdapat firman Allah dalam Al-Quran yang artinya, “Janganlah kamu lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, karena kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran:139).

“Dan janganlah kamu berduka-cita terhadap mereka.” (QS. An-Nahl:127).

Beberapa ayat juga berbunyi senada.

Kemudian firman Allah, “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” (QS. At-Taubah:40)

Adapun dalam konteks kalimat negatif (peniadaan) misalnya firman Allah, Kami berfirman, “Turunlah kamu semua dari surga! Kemudian jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah:38)

Lalu apa rahasia dari semua ini? Ibnul Qayyim menjelaskan bahwasannya kesedihan merupakan suatu keadaan yang tidak menyenangkan, dan sama sekali tidak ada maslahatnya bagi hati. Suatu hal yang paling disenangi setan adalah membuat kesedihan yang mendalam. Karena hal tersebut dapat menghentikannya dari rutinitas amalan baik dan juga ibadahnya.

Allah berfirman, “Sesungguhnya pembicaraan bisik-bisik itu adalah dari setan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita.” (QS. Al-Mujadalah:10)

Islam Ingin Manusia Bahagia

Bersyukurlah atas segala nikmat yang telah Allah berikan, karena Islam merupakan agama yang menginginkan manusia untuk bahagia. Allah SWT, merupakan Sang Pembuat Syariat ini tak ingin melihat hamba-Nya bersedih hati. Oleh karenanya, Islam diturunkan sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam semesta.

Dalam Al-Quran Surah Thaha Allah berfirman, “Kami tidaklah menurunkan Al-Quran ini kepadamu untuk membuatmu susah.” (QS. Thaha: 2).

Artinya, Islam diturunkan untuk membuat manusia menjadi lebih berharga dan bahagia. Sebaliknya, saat seorang jauh dari Islam, saat itulah tanda bahwa manusia sedang mengalami kesedihan yang hakiki akan menghampirinya.

Nabi s.a.w pernah bersabda, “Jika kalian bertiga maka janganlah dua orang berbicara/berbisik-bisik berduaan sementara yang ketiga tidak diajak, sampai kalian bercampur dengan manusia. Karena hal ini bisa membuat orang yang ketiga tadi bersedih.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis tersebut menekankan, bahwa sekadar berbisik jika akan membuat seseorang menjadi sedih, itu dilarang. Di sisi lain, ini menunjukkan bahwa Islam begitu menjaga perasaan setiap umatnya menginginkan kebahagiaan dalam hati setiap insan. Bahkan Allah senang melihat kebahagiaan dalam diri kita.

 

Related posts