5+ Hadist Ketika Bepergian untuk Seorang Wanita Muslimah

5+ Hadist Ketika Bepergian untuk Seorang Wanita Muslimah
photo: google

Meskipun perjalanan hari ini  merupakan hal yang sangat lumrah, masih ada kalangan muslim yang melakukan pembatasan-pembatasan bepergian untuk perempuan, yang didasarkan aturan agama maupun tradisi. Kumpulan hadist ketika bepergian juga mendasari aturan tersebut.

Agama Islam sangat menjaga kehormatan wanita. Untuk itu terdapat beberapa anjuran ketika hendak bepergian, terutama ketika bepergian tanpa adanya mahram.

Read More

Hadist-hadist ketika bepergian ; Larangan bepergian tanpa mahram

5+ Hadist Ketika Bepergian untuk Seorang Wanita Muslimah
photo: google

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Janganlah wanita safar (bepergian jauh) kecuali bersama dengan mahromnya, dan janganlah seorang (laki-laki) menemuinya melainkan wanita itu disertai mahromnya. Maka seseorang berkata: “Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sesungguhnya aku ingin pergi mengikuti perang anu dan anu, sedangkan istriku ingin menunaikan ibadah haji.” Beliau bersabda: “Keluarlah (pergilah berhaji) bersamanya (istrimu)”. [HSR. Imam Bukhari (Fathul Baari IV/172), Muslim (hal. 978) dan Ahmad I/222 dan 246]

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Janganlah seorang wanita safar sejauh tiga hari (perjalanan) melainkan bersama dengan mahramnya”. [HSR. Imam Bukhari (1087), Muslim (hal. 970) dan Ahmad II/13; 19; 142-143; 182 dan Abu Daud]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak halal (boleh) bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir safar sejauh sehari semalam (perjalanan) dengan tanpa mahram (yang menyertainya)”. [HSR. Imam Bukhari (Fathul Baari II/566), Muslim (hal. 487) dan Ahmad II/437; 445; 493; dan 506]

Dari Qaz’ah maula Ziyaad berkata: “Aku mendengar Abu Sa’id (Al-Khudry Radhiyallahu ‘anhu), yang telah mengikuti dua belas peperangan bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, berkata: “Empat perkara yang aku dengar dari rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membuat aku takjub dan kagum, yaitu: “Janganlah seorang wanita safar sejauh dua hari (perjalanan) tanpa disertai suami atau mahramnya, janganlah berpuasa pada dua hari Idul Fitri dan Idul Adlha, janganlah sholat setelah mengerjakan dua sholat yaitu setelah sholat Ashar sampai tenggelam matahari dan setelah sholat Subuh sampai terbit matahari, dan janganlah bepergian jauh kecuali menuju tiga masjid: masjidil Haram, masjidku (masjid nabawi) dan masjidil Aqsho.” [HSR. Imam Bukhari (Fathul Baari IV/73), Muslim (hal. 976) dan Ahmad III/34 dan 45]

Hadist Ketika Bepergian; Bolehkah seorang wanita safar untuk mengerjakan haji tanpa disertai mahram ?

5+ Hadist Ketika Bepergian untuk Seorang Wanita Muslimah
photo: google

Ahlul ilmi telah berpendapat mengenai safarnya seorang wanita tanpa disertai mahram untuk melaksanakan ibadah haji. Sebagian Ahlul ilmi berkata: “Tidak wajib bagi wanita tersebut, karena mahram termasuk As-sabiil (perjalanan ke baitullah) hal tersebut berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“(Bagi) Orang yang sanggup mengadakan perjalan ke baitullah”. [Ali Imaran 97]

Mereka (ahlul ilmi) berkata: “Apabila tidak ada mahram yang menyertainya berarti wanita tersebut tidak sanggup mengadakan perjalan ke Baitullah”. Itu merupakan pendapat Sufyan Ats-Tsauri dan penduduk Kufah.

Sebagian ahlul ilmi juga berkata: “Apabila jalan menuju ke Baitullah itu aman, maka wanita-wanita tersebut dapat keluar bersama orang banyak untuk berhaji”. Ini adalah pendapat Malik bin Anas dan Syafi’i. [Lihat Tuhfatul Ahwadzi IV/332]

Al-Qurthuby berkata: “Sebab perbedaan pendapat ini adalah karena zhahir hadist ini bertentangan dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah”. [Ali Imran : 97]

Karena zhahir ayat itu merupakan kesanggupan badan, maka wajib bagi setiap orang yang kuat badannya untuk melaksanakan ibadah haji. Kemudian untuk wanita yang tidak mendapatkan mahram (yang akan menyertainya untuk berhaji), akan tetapi kuat badannya, maka wajib bagi wanita tersebut diperbolehkan untuk berhaji. Fenomena ini memang sering menimbulkan perbedaan pendapat, para ulama’ berbeda pendapat dalam menakwilkan hal itu. [Dinukil dari Kasyful Khafa’ ‘an Ahkam safar An-Nisaa’; ta’lif : Muhammad Musa Nashr hal. 8-9].

Itu mengapa banyak terjadinya perbedaan pendapat dikalangan ulama’ dalam masalah ini, sebagaimana yang telah dikatakan oleh Imam Al-Qurthuby rahimahullah.

Hadist Ketika Bepergian; Dalil-dalil ulama’ yang melarang wanita safar tanpa mahram untuk berhaji

5+ Hadist Ketika Bepergian untuk Seorang Wanita Muslimah
photo: google

1. Hadist-hadist sebelumnya telah menjelaskan hukum wanita safar tanpa disertai mahram.
2. Pada hadist Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu (hadist no. 1 di awal pembahasan).
Ulama’ berkata: “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan shahabat untuk meninggalkan jihad dan agar dia pergi berhaji bersama istrinya, yang demikian itu menguatkan masalah mahram (bagi wanita) dalam safar, baik berhaji atau selainnya”.
3. Para Ulama’ berkata: “As-Sabil (mengadakan perjalanan) dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : “(Bagi) Orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke baitullah”. [Ali Imaran 97]

adalah umum dan mahram termasuk didalamnya.

4. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada Abdurrahman bin Abi Bakar Radhiyallahu ‘anhu untuk menemani Aisyah Radhiyallahu ‘anha berumroh dari Tan’im. [lih. Jaami’ Ahkaamin Nisa’ II/hal. 458-459]

Hadist Ketika Bepergian; Dalil-dalil ulama’ yang membolehkan wanita safar tanpa mahram dan bantahannya

5+ Hadist Ketika Bepergian untuk Seorang Wanita Muslimah
photo: google

1. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Quran.

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah”. [Ali Imran : 97]

Mereka berkata: “Telah datang hadist dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa as-sabiil (mengadakan perjalanan) dalam ayat tersebut ditafsirkan dengan Az-Zaad (bekal/makanan) dan kendaraan.

2. Umar Radhiyallahu ‘anhu mengidzinkan istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan hajinya yang terakhir serta mengutus Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu ‘anhuma menemani mereka. Hadist tersebut dikeluarkan oleh Imam Bukhari. [Fathul Baari IV/72]

3. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda

“Janganlah kalian melarang hamba-hamba wanita Allah menuju ke masjid-masjid Allah”.

Mereka berkata: “Masjidil Haram termasuk di antara masjid-masjid Allah dalam hadist tersebut”.

4. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Adi bin Hatim Radhiyallahu ‘anhu :

“Apabila engkau berumur panjang, maka engkau akan melihat seorang wanita berpindah (safar) dari satu kampung sehingga ia berthawaf di Ka’bah dan dia tidak takut kepada seorangpun kecuali kepada Allah”.

5. Adanya kiasan seorang wanita sendirian dalam rangka hijrah dari negeri kafir dan melarikan diri dari penawanan. Ini adalah safar yang wajib sebagaimana safar untuk menunaikan ibadah haji.

6. Ada persangkaan bahwa larangan tersebut berlaku hanya untuk bersafar sejauh tiga hari perjalanan atau lebih (hari yang paling banyak dalam hadist-hadist yang melarang). Adapun jika satu hari maka tidak termasuk ke dalam larangan tersebut. Hal ini karena banyaknya riwayat-riwayat tersebut seolah-oleh riwayat yang paling banyak (yakni tiga hari), maka menghapuskan hukum riwayat yang sedikit (satu hari).

7. Sebagian ulama’ juga berpendapat bahwa larangan tersebut khusus untuk gadis, adapun wanita lanjut usia yang tidak menarik lagi maka ia boleh safar tanpa suami atau mahram.

 

 

 

Related posts